Tugas
Kelompok
PEMBAHASAN
SYARAT-SYARAT PENYUSUNAN TAGIHAN DAN INSTRUMEN PENILAIAN
EVALUASI PENDIDIKAN
Dosen: Ujang Efendi, M.Pd.I
Disusun
oleh:
Bakti
Andrian : 1311010134
Widiya
Rahma Armaini : 1311010140
Ovan
Wijaya :
13110101

FAKULTAS
TARBIYAH
INTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
RADEN
INTAN LAMPUNG
1436 H/2015 M
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya
lah kami dapat menyelesaikan makalah ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang
dimiliki.
Dan
juga kami berterima kasih pada Bapak Ujang Efendi,
M.Pd.I selaku
Dosen mata kuliah Metode
Pembelajaran Evaluasi Pendidikan yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Kami sangat
berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai proses dan tahapan belajar. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh
dari apa yang kami harapkan.
Untuk
itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon keritik dan saran
yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Bandar
Lampung, 5
Maret 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar.................................................................................................
ii
Daftar Isi............................................................................................................ iii
v BAB I PENDAHULUAN....................................................................
1
1.1
Latar Belakang Masalah...................................................................
1.2
Rumusan Masalah............................................................................
1.3
Tujuan Penulisan..............................................................................
v BAB II PEMBAHASAN......................................................................
2.1
Pengertian
Evaluasi ........................................................................
2.2
Syarat
– syarat Penyusunan Penilaian ............................................
2.3 Jenis – Jenis Tagihan dan Tugas Belajar .........................................
2.4
Instrumen Penilaian dan Macam – macam
...... penilaian atau tagihan serta alat – alatnya ......................................
v BAB III
v KESIMPULAN.....................................................................................
v PENUTUP.............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Penyusunan tagihan adalah
perencanaan seorang guru dalam memberikan kegiatan atau tugas-tugas belajar
berupa pengalaman langsung di kelas atau di luar kelas. Istilah lain pemberian
tugas ini dikenal dengan tagihan belajar. Terlebih dalam pembelajaran berbasis
kompetensi, maka tagihan belajar menjadi hal yang penting dan menentukan bagi
capaian kompetensi belajar peserta didik. Makin seorang guru memperbesar
tagihan belajar, makin besar pula kemungkinan kompetensi yang akan dicapai.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah syarat-syarat penyusunan tagihan?
2.
Apakah pengertian instrumen penilaian?
3.
Bagaimana jenis-jenis tagihan?
4.
Apa saja bentuk instrumen penilaian?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini
adalah untuk memenuhi salah-satu tugas dari yang diberikan Dosen mata kuliah Evaluasi
Pendidikan,
serta untuk mengetahui tentang pentingnya mengetahui Syarat-
syarat penyusunan tagihan dan instrumen penilaian serta sebagai bahan diskusi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi
Menurut Norman E. Gronlund (1976). Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis
untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan
pengajaran telah dicapai oleh siswa.[1]
Sedangkan
menurut pendapat lain evaluasi merupakan pengukuran ketercapaian program
pendidikan. Perencanaan suatu program substansi pendidikan termasuk kurikulum
dan pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru, pengelolaan
pendidikkan dan reformasi pendidikan secara keseluruhan.[2]
Tagihan atau instrumen penilaian merupakan
bahan yang digunakan untuk mengumpulkan informasi oleh guru tentang
perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik melalui
berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara
tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan (kompetensi) telah benar-benar
dikuasai dan dicapai.[3]
B. Syarat –
Syarat Penyusunan Penilaian
Agar memperoleh hasil yang cermat
dan mengukur apa yang seharusnya diukur, alat evaluasi hendaknya memenuhi
beberapa kriteria, sebagai berikut:
a. Relevansi
Ujian yang baik harus memiliki sifat
relevansi, artinya mengukur hal yang seharusnya diukur. Apabila pengajar hendak
mengukur kemampuan murid tingkat rendah dalam bidang matematika misalnya dalam
hal penjumlahan, maka soal yang dibuat tidak benar jika dirumuskan dalam bentuk
soal cerita yang panjang. Dengan demikian alat ujian dikatak relevan apabila
mengukur apa yang hendak diukur.
b. Efektivitas dan efisiensi
Suatu evaluasi dikatakan efektiv dan
efisien apabila alat evaluasi memberikan informasi secara lengkap dari waktu
yang disediakan untuk menyelesaikan soal yang disajikan. Suatu contoh, ketika
kita ingin menguji 100 orang siswa mengenai sejauh mana penguasaan mereka
tentang suatu bacaan, dan ktia membuat ujian tersebut secara lisan. Hal in
dilihat tidak efisien dari segi waktu dan tenaga. Suatu alat evaluasi dikatakan
cocok apabila alat tersebut kurang bekerja secara efisien dan efetivitas.
c. Keseimbangan
Suatu soal dikatakan seimbang
apabila soal yang dibuat mencakup seluruh materi yang dipelajari. Apabila soal
tersebut hanya mengambil sebagian dari materi yang dipelajari maka soal
tersebut dikatakn tidak seimbang. Jadi, pertanyaan uyang dibuat hendaklah
merata.
d. Objektivitas
Suatu alat evaluasi yang
objektivitas adalah jika jawaban yang diberikan oleh murid hanya benar atau
salah saja tidak mengkombinasikan alat evaluasi lainnya.
e. Tingkat kesulitan
Pertanyaan atau soal ujian hendaknya
disesuaikan dengan umur dan taraf berfikir anak. Artinya soal yang dibuat
sesuai jangkauan berfikir anak.
f. Dapat dipercaya
Alat evaluasi dikatakan terpercaya
apabila soal yang dibuat dan dikerjakan oleh dua kelompok murid pada tingkat
yang sama menunjukkan hasil yang sama.
g. Kejujuran
Suatu alat evaluasi dikatakan
memilki kejujuran apabila setiap murid berhak mendapat nilai yang terbaik
sebagai hasil usahanya. Jadi, setiap murid memperoleh kesempatan menunjukan
siapa mreka/dirinya.
h. Waktu
Salah satu syarat alat evaluasi
adalah apabila terdapat perbandingan yang serasi antara soal yang dibuat dengan
waktu yang tersedia. Misalnya, disajikan soal objekctive sebanyak 100 butir
dalam pilihan ganda. Waktu yang disediakan hanya 25 menit atau bahkan kurang
dari itu maka soal tersebut dikatakn kurang baik.[4]
C. Jenis – Jenis Tagihan dan Tugas Belajar
Jenis tagihan belajar sangat
ditentukan oleh topic materi yang dikemas. Secara umum tagihan belajar ini
harus menjawab ranah belajar yang dikembangkan pada kompetensi dan indikator.
Misalnya ketika kita ingin meminta tagihan belajar pada ranah kognitif, maka
tagihan belajar hatus menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan
pengetahuan dan pemahaman.[5]
Data dan informasi sebagai dasar
penentuan tingkat keberhasilan peserta didik dalam penguasaan kompetensi
dasar yang diajarkan memerlukan adanya berbagai jenis tagihan. Jenis
tagihan yang dapat dipakai dalam sistem penilaian berbasis kompetensi
dasar dapat terkait aspek kognitif atau psikomotor, antara lain sebagai
berikut:
a. Kuis
Dilaksanakan dalam waktu yang
singkat misalnya 15 menit saja, dan hanya menanyakan hal-hal yang prinsip.
Bentuknya berupa isian singkat.[6]
Kuis biasanya diberikan sebelum pelajaran baru dimulai yaitu untuk mengethui
pelajaran yang lalu secara singkat. Kuis dapat pula diberikan setelah pelajaran
diberikan, yaitu untuk mengethui pemahaman peserta didik terhadap pelajaran
yang baru diberikan itu. Bila ada bagian yang belum dikuasai sebaiknya guru
menjelaskan kembali dengan metode yang lain.[7]
b. Pertanyaan lisan di kelas
Materi yang ditanyakan berupa
pemahaman terhadap konsep, prinsip atau teori. Teknik bertanya yang
baik adalah mengajukan pertanyaan ke kelas, memberi waktu sebentar untuk
berpikir, memilih peserta didik secara acak untuk menjawab. Jawaban ini benar
atau salah selalu diberikan kepada peserta didik lain atau meminta pendapat
untuk jawaban peserta didik yang pertama. Kemudian guru menyimpulkan jawaban
peserta didik yang benar. Pertanyaan lisan ini dapat diajukan pada awal atau
akhir pelajaran
c. Ulangan harian
Ulangan harian sebaiknya dilakukan
secara periodik, misalnya satu atau dua kompetensi dasar selesai diajarkan.
Bentuk soal yang digunakan sebaiknya bentuk uraian objektif atau uraian
nonobjektif. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya pemahaman, analisis, dan
aplikasi.[8]
d. Tugas individu
Tugas invidu dapat diberikan setiap
minggu dengan bentuk tugas atau soal uraian objektif atau non objektif.[9]
Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya aplikasi, analisis, bila mungkin
sampai sintesis dan evaluasi. Tugas individu untuk mata pelajaran tertentu
dapat terkait dengan ranah psikomotor, seperti mengadakan observasi lapangan
dalam Geografi atau latihan tari/musik pada pelajaran Pendidikan Kesenian.
e. Tugas kelompok
Tugas
kelompok digunakan adalah uraian dengan tingkat berpikir tinggi yaitu aplikasi
sampai evaluasi. Bila mungkin peserta didik diminta menggunakan data sungguhan
atau melakukan pengamatan terhadap suatu gejala, atau merencanakan suatu proyek
Proyek pada umumnya menggunakan data sungguhan dari lapangan. Tugas kelompok
dapat terkait dengan ranah psikomotor.
f. Ulangan blok
Bentuk soal
yang dipakai dalam ulangan blok, bagian dari semester dapat berupa PG, uraian,
atau campuran PG dan uraian. Materi yang diujikan harus berdasarkan kisi-kisi
soal. Tingkat berpikir yang terlibat dari ranah pemahaman sampai dengan
evaluasi.
g. Laporan kerja praktek atau laporan praktikum
Bentuk ini dipakai untuk mata
pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya, seperti: Fisika, Kimia, Biologi.
Peserta didik bisa diminta untuk mengamati suatu gejala dan melaporkannya.
h. Responsi
atau ujian praktek
Bentuk ini dipakai untuk mata
pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya seperti Fisika, Kimia, Biologi, yaitu
untuk mengetahui penguasaan akhir baik ranah kognitif maupun psikomotor. Ujian
responsi dapat dilakukan di awal praktek atau setelah melakukan praktek.
Ujian yang dilakukan sebelum praktek bertujuan untuk mengetahui kesiapan
peserta didik melakukan praktek di laboratorium. Sedangkan bila dilakukan setalah
praktek bertujuan untuk mengetahui kompetensi dasar praktek yang dicapai
peserta didik dan yang belum.[10]
D. Instrumen Penilaian
a. Pengertian
Instrumen Penilaian dalam Pendidikan
Instrumen adalah alat ukur yang
digunakan untuk mengukur dalam rangka pengumpulan data. Misalnya timbangan
adalah instrumen alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data berat dengan
cara melakukan penimbangan.[11]
Dalam pendidikan Instrumen alat ukur
yang digunakan untuk mengumpulkan data dapat berupa tes atau nontes. Tes atau
penilaian merupakan alat ukur pengumpulan data yang mendorong peserta
memberikan penampilan maksimal.sedangkan Instruman nonotes merupakan alat ukur
yang mendorong peserta untuk memberikan penampilan tipikal, yaitu melaporkan
keadaan dirinya dengan memberikan respons secara jujur sesuai dengan pikiran
dan perasaannya.
Sebagai sebuah penilaian, Tes Hasil
Belajar (THB) merupakan salah satu alat ukur yang mengukur penampilan maksimal.
Dalam pengukuran siswa peserta tes di dorong mengeluarakan segenap kemampuan
yang dimilkinya untuk menyelesaikan soal yang diberika dalam Tes Hasil Belajar.
Hasil belajar siswa dapat diketahui dengan mencatat skor atas jawaban yang
telah diberikan masing-masing siswa.
Tes Hasil Belajar mengukur
penguasaan siswa terhadap materi yang di ajarakan oleh guru dan di pelajari
oleh siswa. Penguasaan hasil belajar mencerminkan perubahan perilaku yang di
capai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Mengajar adalah usaha
siswa yang menimbulkan aktivitas belajar siswa sedangkan Belajar adalah usaha
siswa yang menimbulkan perubahan perilaku dalam dirinya.[12]
E. Fungsi
penilaian dalam proses belajar
mengajar
1. Unruk mengetahui tercapai tidaknya
tujuan pengajaran.
2. Untuk mengetahui keefektifan proses
belajar mengajar yang telah dilakukan guru.
Dengan fungsi ini guru dapat
mengetahui behasil tidaknya ia mengajar. Rendahnya hasil belajar yang dicapai
siswa tidak semata-mata disebabkan kemampuan siswa tetapi juga bisa disebabkan
kurang berhasilnya guru mengajar. Melalui penilaian, berarti menilai kemampuan
guru itu sendiri dan hasilnya dapat di jadikan bahan dalam memperbaiki usahanya
yakni tindakan mengajar berikutnya. Dengan demikian fungsi penilaian dalam
proses belajar mengajar bermanfaat ganda, yakin bagi siswa dan guru.[13]
F. Macam-macam
Instrumen penilaian dalam Pendidikan
Instrumen
alat ukur dalam pendidikan sangat berhubungan dengan variabel yang hendak di
ukur. Berdasarkan perlu tidaknya alat ukur dapat dibakukan, variabel dapat di
bagi menjadi dua yaitu variabel faktual dan variabel konseptual.
Variabel
faktual adalah variabel yang terdapat faktanya. Oleh karena bersifat faktual,
bila terdapat kesalahan dalam data maka kesalahan bukan terletak pada instrumen
alat ukurnya, tetapi responden memberikan jawaban yang tidak jujur. Alat ukur
untuk mengukur variabel faktual tidak perlu di bakukan. Termasuk variabel
faktual adalah jenis kelamin, agama, pendidikan, usia, asal sekolah, pekerjaan,
status perkawinan, asal tempat tinggal dan sebagainya.
Sedangkan Variabel Konseptual adalah
variabel yang tidak terlihat dalam fakta tetapi tersembunyi dalam konsep, maka
kesalahan data dapat disebabkan oleh kesalahan konsep pad alat ukur yang
digunakan. Untuk memastikan alat ukur tidak salah konsep maka sebelum digunakan
untuk mengukur variabel konsep, alat ukur dibakukan terlebih dulu. Termasuk
dalam variabel konsep adalah motovasi belajar, bakat minat menjadi guru,
prestasi belajar, kecerdasan, bakat musik, konsep diri dan sebagainya.
Kesalahan data variabel “kecerdasan” misalnya kemungkinan di sebabkan oleh alat
ukur pengumpulan data kecerdasan yang salah konsep.
G. Syarat-syarat
alat ukur yang baik
Pengukuran adalah membandingkan
objek yang di ukur dengan alat ukurnya, kemudian mencatat angka kepada objek
yang di ukur menurut aturan tertentu. Alat ukur yang digunakan dalam ilmu alam
merupakan contoh yang baik bagi Instrumen pengkuran dalam ilmu sosial.
Instrumen juga harus memenuhi syarat reliabilitas. Reliabilitas berhubungan
dengan dapat dipercayanya instrumen. Instrumen dapat dipercaya apabila
memberikan hasil pengukuran yang relatif stabil dan konsisten. Semakin tinggi
akurasi dan presisi hasil pengukuran, maka semakin rendah tingkat kekeliruan
dalam melakukan pengukuran. Dan semakin rendah kekeliruan maka akan
menghasilkan pengukuran dengan hasil yang konsisten.[14]
H. Bentuk Penilaian
a.
Penilaian Tertulis
Penilaian tertulis biasanya diadakan untuk waktu yang terbatas dan dalam
kondisi tertentu. Dari berbagai alat penilaian tertulis, alat penilaian jawaban
benar-salah, isian singkat, dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai
kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Alat
pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami.
Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu siswa tidak mengembangkan sendiri
jawabannya tetapi cenderung hanya menerka jawaban yang benar. Hal ini
menimbulkan kecenderungan siswa tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi
menghafalkan soal dan jawabannya. Alat penilaian ini kurang dianjurkan
pemakaiannya karena tidak menggambarkan kemampuan siswa yang sesungguhnya.
Esai adalah alat penilaian yang menuntut siswa untuk mengingat, memahami,
dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari, dengan
cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian
tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai
berbagai jenis kemampuan, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan
menyimpulkan.
a.
Penilaian Unjuk Kerja (Performance)
Pada dokumen
kurikulum tercantum banyak hasil belajar yang menggambarkan proses, kegiatan,
atau unjuk kerja. Untuk menilai hasil belajar tersebut dibutuhkan pengamatan
terhadap siswa ketika melakukannya. Penilaian unjuk kerja adalah penilaian
berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang
terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, tingkah laku, atau interaksi
siswa. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang
dinilai lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya.
Semakin sering guru mengamati unjuk kerja siswa, semakin terpercaya hasil
penilaian kemampuan siswa. Penilaian dengan cara ini lebih tepat digunakan
untuk menilai kemampuan siswa dalam berpidato, pembacaan puisi, dan diskusi, pemecahan
masalah dalam suatu kelompok, partisipasi siswa dalam diskusi kelompok kecil,
menari, memainkan alat musik, dan melakukan aktivitas berbagai cabang olahraga,
menggunakan peralatan laboratorium, dan mengoperasikan suatu alat.
menggunakan peralatan laboratorium, dan mengoperasikan suatu alat.
Pengamatan
unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks sebelum menetapkan tingkat
pencapaian kemampuan tertentu. Contoh; untuk menilai kemampuan berbicara siswa,
perlu dilakukan pengamatan berbicara yang beragam, seperti: diskusi dalam
kelompok kecil, berpidato, bercerita, dan melakukan wawancara.
Dengan demikian, gambaran
kemampuan siswa akan lebih utuh.
Langkah-langkah
yang perlu dilakukan dalam membuat penilaian unjuk kerja adalah sebagai
berikut:
• Identifikasi semua langkah
penting atau aspek yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir.
• Tuliskan kemampuan-kemampuan
khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
• Usahakan kemampuan yang akan
dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati.
• Urutkan kemampuan yang akan
dinilai berdasarkan urutan yang akan diamati
Hal lain
yang perlu mendapat perhatian adalah cara mengamati dan memberi skor terhadap
unjuk kerja siswa. Penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang
agar faktor subjektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat.
Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya –
tidak) atau skala rentang (sangat kompeten – kompeten – agak kompeten – tidak
kompeten).
Pada
penilaian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, siswa mendapat nilai apabila
kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak
dapat diamati, siswa tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai
hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak
dapat diamati. Dengan demikian nilai tengah tidak ada. Penilaian unjuk kerja
yang menggunakan skala rentang memungkinkan penilai memberi nilai tengah
terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinuum
di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua.
b.
Penilaian Produk
Penilaian
hasil kerja meliputi pula penilaian terhadap kemampuan siswa membuat
produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni
(patung), barang barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam.
Penilaian produk ini tidak hanya melihat hasil akhirnya saja tetapi juga proses pembuatannya. Contoh, kemampuan siswa menggunakan berbagai teknik menggambar, menggunakan peralatan dengan aman, membakar kue dengan hasil baik, bercita rasa enak, dan berpenampilan menarik.
Penilaian produk ini tidak hanya melihat hasil akhirnya saja tetapi juga proses pembuatannya. Contoh, kemampuan siswa menggunakan berbagai teknik menggambar, menggunakan peralatan dengan aman, membakar kue dengan hasil baik, bercita rasa enak, dan berpenampilan menarik.
Pengembangan
produk meliputi tiga tahap, yaitu:
• Tahap persiapan, meliputi:
menilai kemampuan siswa merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan
mendesain produk.
• Tahap pembuatan (produk),
meliputi: menilai kemampuan siswa menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan
teknik.
• Tahap penilaian (appraisal),
meliputi: menilai kemampuan siswa membuat produk sesuai kegunaannya dan
memenuhi kriteria keindahan.
c.
Penilaian Portofolio
Portofolio
merupakan kumpulan karya (hasil kerja) seorang siswa dalam satu periode.
Kumpulan karya ini menggambarkan taraf kemampuan/kompetensi yang telah dicapai
seorang siswa. Hal penting yang menjadi ciri portofolio adalah karya tersebut
dapat diperbaiki jika siswa menghendakinya.
Dengan
demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar siswa.[15]
Yang menjadi pertimbangan utama adalah guru seyogianya menggunakan penilaian
portofolio sebagai bagian integral dari proses pembelajaran karena nilai
diagnostik portofolio sangat berarti bagi guru.
DAFTAR
PUSTAKA
Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip
dan Teknik, Jakarta: PT Remaja Rosdakarya, 2004
Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi
Revisi), Jakarta: Bumi Aksara, 2008
Mulyadi,
Evaluasi Pendidikan, Malang: Bumi Aksara.
2010
Noehi, Nasution, Materi Pokok Evaluasi Pengajaran, Jakarta:
Universitas Terbuka, 1993
Sudijono, Anas, Strategi Penilaian Hasil Belajar Afektif
pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Journal Yogyakarta, 2003
Azwar, Syaifuddin, Tes Prestasi, Fungsi dan pengembangan
Pengukuran prestasi belajar,
Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005.
Departemen Agama RI, Penilaian Berbasis kelas, Jakarta,
Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, 2003
Raka Joni, T., Penilaian Pencapaian Siswa-Mahasiswa, Penataran
Lokakarya Tahap II, Proyek Pengembangan Pendidikan Guru, Dep. P&K, Jakarta
1980
http://awanachaizan.blogspot.com/2011/12/desain-tugas-dan-tagihan-belajar.html
Masnur
Muslich. Authentic Assessment: Penilaian Berbasis Kelas dan Kompetensi. Bandung: Refika Aditama,
2011
Nurkancana
dan sumartana Evaluasi Pendidikan, Bandung:
Grafindo, 1986
https://fuadmje.wordpress.com/2011/11/05/instrumen-evaluasi-hasil-belajar/
http://makalahpendidikan-sudirman.blogspot.com/2012/07/tujuan-dan-fungsi-penilaian-
hasil.html
http://r-doc.blogspot.com/2009/11/syarat-syarat-alat-ukur-hasil-belajar.html
[2] Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi
Revisi), (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)., hlm.
65
[4] Noehi, Nasution, Materi Pokok Evaluasi Pengajaran, Jakarta:
Universitas Terbuka, 1993
[5] Sudijono, Anas, Strategi Penilaian Hasil Belajar Afektif
pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Journal Yogyakarta, 2003)., hlm.
86
[6] Azwar, Syaifuddin, Tes Prestasi, Fungsi dan pengembangan
Pengukuran prestasi belajar, (Yogyakarta:
Pustaka Belajar, 2005)., hlm. 45
[7] Departemen Agama RI, Penilaian Berbasis kelas, (Jakarta, Direktorat
Madrasah dan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, 2003)., hlm.
33
[8] Raka Joni, T., Penilaian Pencapaian Siswa-Mahasiswa, (Penataran Lokakarya Tahap
II, Proyek Pengembangan Pendidikan Guru, Dep. P&K, Jakarta 1980)., hlm.
77
[10] Masnur Muslich. Authentic Assessment:
Penilaian Berbasis Kelas dan Kompetensi. (Bandung: Refika Aditama, 2011)., hlm. 56
[13] http://makalahpendidikan-sudirman.blogspot.com/2012/07/tujuan-dan-fungsi-penilaian-hasil.html/. Jam
8.46 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar